Hakikat Dakwah

Hakikat dakwah adalah membangun kesadaran umat untuk melakukan kebaikan sebagaimana yang dianjurkan di dalam ajaran agama. Upaya untuk membangun kesadaran itu, dilakukan dengan cara mengajak dan menyampaikan ajaran tentang nilai-nilai yang harus diketahui khalayak.
Dakwah lebih ditekankan kepada upaya untuk membangun motivasi dibandingkan menebarkan larangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang agama. Tindakan melarang suatu perbuatan merupakan tindakan yang berdimensi hukum. Sedangkan dakwah dalam konteks kekinian, bukanlah perbuatan yang berdimensi hukum, meskipun diakui bahwa dakwah dan hukum bisa jalan beriringan.
Contoh-contoh yang dilakukan oleh Nabi Muhammad semasa periode dakwah di Makkah memberi penegasan bagaimana dakwah diorientasikan kepada upaya untuk membangun motivasi warga Mekkah agar mau berbuat baik dan menebar kebaikan. Karena motivasi itu, sebagian warga Mekkah kemudian menyadari pentingnya menghormati hak-hak kaum perempuan, menghormati hak kaum yang termarginalkan, dan menghindari perilaku tabz ir (boros). Dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad mengantarkan masyarakat Mekkah sampai ke puncak pemahaman kebaikan yaitu tidak mempertuhankan selain Allah, melalui sikap egalitarianisme di antara sesama mereka.
Seiring dengan perjalanan waktu, makna dakwah mulai mengalami pergeseran. Perubahan itu disebabkan oleh banyak hal. Di antara yang bisa dicatat di sini adalah dinamika politik yang berlangsung di Tanah Air, perubahan budaya, hingga perubahan peta politik global. Kesemuanya merupakan variabel-variabel yang mengubah dakwah dari wajah aslinya. Perang dingin yang terjadi di antara Barat dan Uni Soviet, disebut-sebut turut mengubah wajah dakwah tersebut.

Berubahnya wajah dakwah itu bukan saja terlihat dari aspek tampilan, tapi juga esensi dari dakwah itu sendiri. Dakwah yang semula dimaknakan sebagai ajakan, dalam perjalanannya telah berubah menjadi di’a yah (propaganda). Tentu saja, terdapat perbedaan makna yang sangat jauh di antara keduanya. Dakwah dalam maknanya mengajak, lebih menekankan kepada persuasi dan motivasi. Sedangkan dakwah dalam maknanya sebagai propaganda, penekanannya lebih kepada “kami lebih baik daripada mereka” atau “jangan ikuti mereka”.
Dakwah, dalam bentuk di’a yah ini, yang kemudian mendominasi ruang publik Tanah Air belakangan ini. Mimbar-mimbar dakwah di masjid, musholla atau pengajian, lebih menekankan kepada ajakan untuk mendukung usaha yang dilakukan oleh pendakwah, termasuk juga gerakan politik yang sedang dilakukan pendakwah. Jika pada masa lalu, dakwah lebih diarahkan kepada mengembalikan orientasi pemahaman umat kepada al-akhlak alKarimah, maka pada masa kini dakwah diarahkan kepada upaya membangun dukungan di dalam mengkritik pemerintah.
Dalam situasi dakwah seperti itu, meluapkan amarah dan emosi terhadap kebijakan pemerintah menjadi tidak terkendali. Sementara itu, di sisi lain, dakwah yang bernuansa di’a yah menggiring opini khalayak untuk memusuhi keragaman pemikiran yang telah lama berkembang di masyarakat. Akibatnya, dakwah pun tidak lagi menjadi forum untuk memunculkan solusi yang membuat lega banyak pihak. Dakwah seperti kehilangan elannya sebagai upaya untuk memunculkan uswatun hasanah.

Komentar